Tokoh-Tokoh Sejarah Pecinta Kopi: dari Sufi hingga Filsuf

7 Tokoh Sejarah Pecinta Kopi

Kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari peradaban manusia selama berabad-abad. Di balik secangkir kopi, terdapat kisah-kisah menarik tentang tokoh-tokoh sejarah yang menjadikan minuman ini sebagai sahabat setia dalam berkarya, beribadah, bahkan memimpin bangsa. Siapa saja mereka?

Para Sufi: Perintis Awal Tradisi Minum Kopi

Sejarah mencatat bahwa kopi pertama kali populer di kalangan sufi—para mistikus Muslim—yang membutuhkan stamina untuk beribadah sepanjang malam. Mereka menyeruput kopi agar tetap terjaga saat melakukan ritual zikir semalam suntuk. Penganut tarekat inilah yang berperan besar menyebarkan kopi ke seluruh dunia, bukan hanya melalui pedagang dan pengelana, tapi juga para jamaah haji.

Five Sufi men in traditional attire sitting around a table drinking tea under a full moon

Salah satu tokoh sufi yang sangat dihormati adalah Syekh Abul Hasan Ali ibn Umar, seorang hakim di pemerintahan Sultan Sadaddin II di selatan Ethiopia. Beliau dinobatkan sebagai “wali bagi para petani kopi dan para penikmat kopi.” Di Aljazair, kopi bahkan kadang disebut sebagai “syadziliyah” sebagai bentuk penghormatan kepadanya.

Tokoh sufi lainnya, Shadili Abu Bakar ibn Abdullah Alaydrus, begitu terpesona dengan efek kopi hingga menciptakan sebuah puisi (qasidah) untuk memujinya. Dalam puisinya, ia mengungkapkan: “Wahai orang-orang yang asyik dalam cinta sejati dengan-Nya, kopi membantuku mengusir kantuk. Dengan pertolongan Allah, kopi menggiatkanku taat beribadah kepada-Nya di kala orang-orang sedang terlelap tidur”. Para sufi di Yaman biasa meminum kopi sambil melafalkan zikir “Ya Qawiyyu” (Wahai Pemilik Segala Kekuatan) hingga 116 kali.

Kisah Sheikh Omar dari Mocha juga menjadi salah satu legenda penting. Diceritakan bahwa Sheikh Omar, seorang sufi dan tabib dari Kota Al-Mocha di Yaman, diusir dari kampung halamannya. Dalam pengembaraannya, ia menemukan tanaman berbuah merah di Ethiopia, lalu mengolahnya menjadi minuman yang memberi energi dan semangat. Temuannya kemudian diperkenalkan kembali ke Mocha dan disambut dengan antusias oleh masyarakat setempat.

Para Filsuf dan Penulis: Kopi sebagai Sumber Inspirasi

Memasuki abad ke-18, kopi menjadi minuman favorit para intelektual Eropa. Voltaire, filsuf dan penulis asal Prancis, adalah salah satu pecinta kopi paling ekstrem. Dikatakan bahwa ia mengonsumsi 40 hingga 50 cangkir kopi per hari—terkadang dicampur dengan cokelat. Dokternya sempat memperingatkan bahwa kebiasaan mahal ini mengancam kesehatannya, namun Voltaire tetap hidup produktif hingga usia 83 tahun.

Voltaire adalah salah satu tokoh sejarah pecinta kopi yang terkenal

Søren Kierkegaard, filsuf Denmark, memiliki ritual minum kopi yang unik. Ia menumpuk hingga 30 kubus gula dalam setiap cangkir kopinya. Lebih menarik lagi, Kierkegaard memiliki koleksi 50 cangkir kopi dan selalu meminta sekretarisnya memilihkan satu cangkir dengan alasan filosofis untuk setiap kali ia menikmati kopi.

Di Prancis, Honore de Balzac, sastrawan besar, menggambarkan secara detail kenikmatan dan kepedihan kecanduan kopi dalam artikelnya “The Pleasures and Pains of Coffee”. Saat menulis magnum opusnya La Comedie Humaine, Balzac menghirup lebih dari 50 cangkir kopi sehari dan bahkan mengunyah biji kopi.

Para Komposer dan Seniman: Kopi dalam Irama

Ludwig Van Beethoven, komposer asal Jerman, terkenal dengan ritual kopinya yang sangat presisi. Ia menghitung sendiri 60 biji kopi untuk setiap cangkir—tidak boleh kurang atau lebih. Kebiasaan ini tertulis dalam biografinya, dan orang-orang terdekatnya tahu bahwa Beethoven akan bertingkah cranky bila melewatkan kopinya.

Beethoven counting 60 coffee beans at desk

Komposer lain, Johann Sebastian Bach, bahkan mengabadikan kecintaannya pada kopi dalam sebuah karya musik berjudul Coffee Cantata. Dalam karya tersebut, Bach menggambarkan kisah tentang seorang ayah yang mendesak putrinya untuk berhenti minum kopi demi pernikahan yang bahagia, namun di akhir cerita, baik ayah, putri, maupun narator bersama-sama menyanyikan keunggulan minum kopi.

Para Pemimpin Dunia: Kopi di Ruang Kekuasaan

Theodore Roosevelt, Presiden ke-26 Amerika Serikat, dikenal sebagai peminum kopi yang luar biasa. Putranya pernah mengatakan bahwa cangkir kopi ayahnya “lebih mirip bak mandi” karena ukurannya yang besar. Roosevelt mengonsumsi sekitar satu galon kopi per hari, dengan tambahan lima hingga tujuh sendok gula setiap cangkirnya. Legenda menyebutkan bahwa saat berkunjung ke Nashville, ia mencoba kopi Maxwell House dan berkomentar, “Good to the last drop”—yang kemudian menjadi slogan ikonik perusahaan tersebut.

Theodore Roosevelt oversized coffee mug library safari suit

George Washington, presiden pertama AS, juga seorang pecinta kopi. Ia mengimpor 200 pon kopi pada tahun 1770 dan bahkan meminta 150 biji kopi dari pelabuhan Mocha—yang pada masa itu dianggap sebagai kopi terbaik—beberapa minggu sebelum kematiannya pada November 1799.

John Adams, presiden kedua AS, beralih ke kopi karena alasan patriotik. Pada masa Revolusi Amerika, minum teh dianggap tidak patriotis karena terkait dengan Inggris. Adams menulis kepada istrinya pada 1774: “Teh harus ditinggalkan secara universal… Saya telah minum kopi setiap sore sejak itu, dan saya menoleransinya dengan sangat baik”.

Sementara itu, Thomas Jefferson menyebut kopi sebagai “minuman favorit dunia beradab” dan menyimpan hingga 60 pon biji kopi di gudang bawah tanah Monticello-nya.

Kesimpulan

Dari para sufi di padang pasir Arab hingga para filsuf di kafe-kafe Eropa, dari komposer klasik hingga presiden Amerika, kopi telah menjadi pendamping setia bagi tokoh-tokoh besar sepanjang sejarah. Mereka tidak sekadar menikmati rasa dan aroma kopi, tetapi menjadikannya sebagai bagian dari ritual kreativitas, ibadah, dan kepemimpinan. Seperti yang pernah dikatakan Martin Luther King Jr. dalam salah satu khotbahnya: “Di meja makan, kita minum kopi yang disediakan oleh seseorang dari Amerika Selatan… Sebelum berangkat kerja, kita berhutang budi kepada lebih dari separuh dunia”. Kopi, dalam banyak hal, adalah minuman yang menghubungkan peradaban.


Kopi Wine: Ketika Biji Kopi Berfermentasi Menghasilkan Cita Rasa Anggur

Kopi wine adalah inovasi perkopian yang menghasilkan cita rasa mirip anggur melalui proses fermentasi alami yang panjang. Artikel ini mengupas tuntas metode fermentasi kopi wine khas Gayo, Aceh, mulai dari durasi 7 hari hingga 60 hari, karakteristik sensori yang unik, hingga faktor kunci keberhasilan fermentasi. Temukan bagaimana biji kopi berfermentasi menghasilkan profil rasa winey yang…

Keep reading

Kopi Nira: Warisan Rasa Manis dari Aceh yang Mendunia

Kopi Nira atau Nirapresso adalah inovasi kopi khas Aceh yang memadukan espresso Kopi Gayo dengan air nira aren alami. Minuman ini lahir dari kreativitas anak muda Aceh, cepat populer, dan kini menjadi tren baru di kalangan penikmat kopi Nusantara. Manis alami nira berpadu sempurna dengan kekuatan kopi tanpa tambahan gula.

Keep reading

Kerinci Coffee: Amazing Volcanic Soul of Jambi

Nestled at the foot of Mount Kerinci, Sumatra’s highest volcano, this highland coffee region produces some of Indonesia’s most vibrant and complex Arabica beans. From its Dutch colonial roots to award-winning specialty coffee, discover the history, unique varietals, and exquisite flavor profiles that make Kerinci coffee a rising star in the global specialty market.

Keep reading

Discover more from Reelkopi Home

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from Reelkopi Home

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading