Menikmati Sejarah Legendaris dalam Secangkir Kopi: Mengunjungi Warung Kopi Tertua Jakarta

Jakarta bukan hanya tentang kemacetan dan gedung pencakar langit. Di sela-sela hiruk pikuk ibu kota, terdapat harta karun tersembunyi. Warung Kopi Tertua Jakarta yang sayang untuk dilewatkan: warung-warung kopi legendaris yang telah berdiri sejak abad ke-19. Tempat-tempat ini adalah saksi bisu perjalanan kota dari zaman Batavia hingga Jakarta modern. Bagi para pecinta kopi dan wisatawan yang mencari pengalaman otentik, mengunjungi kedai-kedai ini seperti melakukan perjalanan waktu.


1. Warung Tinggi Tek Sun Ho (Sejak 1878)

Warung Kopi Tertua Jakarta Tek Sun Ho di kawasan Molenvliet Batavia tahun 1932
Warung Kopi Tek Sun Ho di kawasan Molenvliet Batavia tahun 1932. Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures, CC BY-SA 3.0 https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0, via Wikimedia Commons (Note: Gambar di warnai dan modifikasi oleh AI)

Jika kita berbicara tentang Warung Kopi Tertua Jakarta, nama Warung Tinggi Tek Sun Ho tidak bisa dilewatkan. Berdiri pada tahun 1878 di kawasan Jalan Hayam Wuruk (dulu bernama Molenvliet Oost), kedai kopi ini telah beroperasi selama lebih dari satu abad dan dijalankan oleh lima generasi .

Awal Mula yang Unik
Awalnya, pendiri bernama Liaw Tek Soen hanya membuka warung nasi. Suatu hari, seorang pedagang yang biasa membawa bakul menawarkan biji kopi (yang saat itu hanya populer di kalangan Belanda). Liaw Tek Soen mencoba mengolahnya, dan perlahan-lahan kopi buatannya mengalahkan popularitas warung nasinya .

Ciri Khas:

  • Kopi Jantan & Betina: Warung ini terkenal dengan klasifikasi uniknya. Kopi Jantan memiliki rasa yang sangat kuat dan pekat, dipercaya meningkatkan vitalitas. Sementara Kopi Betina terasa lebih ringan dan cocok untuk lidah yang lebih muda .
  • Suasana: Meskipun sekarang memiliki gerai modern (seperti di Kelapa Gading), nama “Warung Tinggi” tetap identik dengan kualitas klasik dan sejarah panjang. Gerai lamanya di Hayam Wuruk mempertahankan arsitektur tempo dulu dan dipenuhi peralatan antik .

2. Kopi Es Tak Kie, Glodok (Sejak 1927)

Kawasan Pantjoran Glodok Batavia dulu bernama Gang Bioscoop sebelum berganti nama menjadi Gang Gloria
Kawasan Pantjoran Glodok Batavia dulu bernama Gang Bioscoop sebelum berganti nama menjadi Gang Gloria. Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures, CC BY-SA 3.0 https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0, via Wikimedia Commons (Note: Gambar di warnai dan modifikasi oleh AI)

Berlokasi di dalam Gang Gloria, kawasan Pecinan Glodok (Petak Sembilan), terdapat sebuah institusi kopi yang legendaris bernama Kopi Es Tak Kie. Kedai ini tersembunyi di gang sempit, dan jika tidak teliti, Anda mungkin akan melewatkannya .

Filosofi “Tak Kie”
Didirikan oleh seorang perantau asal Tiongkok bernama Liong Kwie Tjong pada tahun 1927, nama “Tak Kie” memiliki filosofi mendalam yang berarti “Orang Sederhana yang Menjunjung Tinggi Kebenaran dan Keadilan” . Hingga saat ini, kedai ini masih dikelola oleh generasi ketiga keluarga sang pendiri.

Ciri Khas:

  • Keaslian Abadi: Meja, kursi jati, dan ornamen di dalam kedai ini masih asli dari tahun 1927. Jangan heran jika Anda merasa sedang duduk di ruang tamu zaman kolonial .
  • Rasa Otentik: Cita rasa kopi yang disajikan tidak pernah berubah selama hampir satu abad. Sensasi pahit dan asam khas kopi Lampung terasa kuat saat diseruput.
  • Jam Buka: Kedai ini hanya buka dari pagi hingga sore (sekitar pukul 14.00 waktu setempat), mengikuti ritme hidup para pedagang di kawasan tersebut .

3. Kopi Bis Kota, Jatinegara (Sejak 1943)

Trem listrik No. 1 di Mataramweg di Batavia, dilihat dari arah Meester Cornelis. Di latar belakang, jembatan layang kereta api. 1946.
Trem listrik No. 1 di Mataramweg di Batavia, dilihat dari arah Meester Cornelis. Di latar belakang, jembatan layang kereta api. 1946. Willem van de Poll, CC0, via Wikimedia Commons (Note: Gambar di warnai dan modifikasi oleh AI)

Jika yang pertama adalah kedai untuk “nongkrong”, Kopi Bis Kota adalah legenda dalam bentuk bubuk kopi yang membangkitkan nostalgia. Berbeda dengan dua kedai sebelumnya, Kopi Bis Kota lebih dikenal sebagai “tempat berburu” kopi bubuk khas Jakarta yang telah eksis sejak tahun 1943 di Pasar Jatinegara .

Kemasan Ikonik
Awalnya bernama Kopi Terompet, namanya berubah menjadi “Bis Kota” pada masa penjajahan Jepang. Yang paling ikonik adalah bungkus kertas cokelat bergambar bus merah yang hingga kini tidak pernah berubah. Di bungkusnya tertera tulisan lawas: “Kopi pilihan dari Djawa jang paling baik terdjual di mana-mana warung” .

Ciri Khas:

  • Pemrosesan Tradisional: Hingga hari ini, kopi robusta Lampung digiling dengan mesin tua yang gemuruhnya masih terdengar dari dalam toko.
  • Masa Keemasan: Pada dekade 1970-1980-an, tempat ini bisa menghabiskan dua ton biji kopi setiap harinya. Kini, ia menjadi “harta karun” bagi kolektor dan pecinta kopi sejati.

4. Bakoel Koffie, Cikini (Akar Sejak 1878)

Banyak yang mengira Bakoel Koffie adalah kafe modern biasa. Namun, akar usahanya bertaut langsung dengan Warung Tinggi. Bakoel Koffie didirikan oleh generasi keempat dari keluarga Tek Sun Ho untuk menyikapi perubahan gaya hidup masyarakat .

Konsep “Bakul”
Nama “Bakoel” (ejaan lawas dari Bakul) diambil untuk menghormati si pedagang bakul yang dulu memperkenalkan kopi kepada leluhur mereka. Logo kafenya pun bergambar seorang ibu berbaju kebaya membawa bakul .

Ciri Khas:

  • Tradisi: Di cabang Cikini, Anda bisa menikmati kopi warisan sejak 1878 dengan suasana yang lebih nyaman dan kekinian.
  • Menu Andalan: Selain kopi tradisional, tersedia juga varian modern seperti kopi Vietnam, tetapi pastikan untuk mencoba Kopi O hitam pekatnya.

Kesimpulan

Warung-warung kopi ini lebih dari sekadar tempat membeli minuman. Mereka adalah museum hidup yang menjaga denyut nadi sosial budaya Jakarta dari masa ke masa. Di tengah menjamurnya coffee shop minimalis dengan latte art kekinian, tempat-tempat tua ini mengajarkan kita bahwa kesederhanaan dan konsistensi adalah kunci keabadian.

Tips untuk Pengunjung:

  1. Datanglah di Pagi Hari: Kebanyakan kedai legendaris ini tutup lebih awal, sekitar pukul 14.00-17.00.
  2. Siapkan Uang Tunai: Beberapa tempat masih belum menerima pembayaran digital.
  3. Nikmati Prosesnya: Jangan buru-buru. Duduklah, amati perabotan tua di sekitar Anda, dan bayangkan hiruk pikuk Jakarta puluhan tahun lalu.


Discover more from Reelkopi Home

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from Reelkopi Home

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading